![]() |
| senja di Ciwidey |
Elok. Satu kata
yang dapat mewakilkan keindahan mata itu. Sekilas terpancar cahaya segemilang
mentari dari sana. Mata itu, walau tampak kuyu atas perjuangan berdarahnya
selama hampir 30 tahun. Tapi kurasa memang semua orang benar tentangnya, tak
ada yang dapat mengalahkan kegemilangan matanya.
“Emm…
Kia,” manusia dengan mata gemilang itu sontak memanggil namaku.
“Eh..
Ya, ada apa?” aku tergagap, malu telah tertangkap basah sedang memperhatikan
mata gemilang manusia di hadapanku.
Manusia bermata gemilang itu menghembuskan nafas pelan. “Kau tahu, aku mungkin tak akan pernah bisa seperti ini tanpamu. Sungguh, Allah Maha Baik mempertemukan kita. Aku sangat bersyukur punya sahabat sepertimu, Kia,” katanya lagi. Sesekali angin yang masuk lewat celah-celah jendela kafe berhembus pelan menyapa wajahnya. Mengayunkan ujung-ujung kerudungnya yang telah basah terlebih dahulu oleh air mata. “Terimakasih, Kia. Kau selalu menjadi teman yang terbaik,” tambahnya lagi diakhiri tawa khasnya. Renyah dan bersahabat.






