Minggu, 15 Juli 2012

Ironisme Kecanggihan Teknologi

sumber gambar : Blog Informasi Fahmi Zolla
Masihku ingat 3 tahun yang lalu saat situs-situs jejaring sosial belum terdengar gaungnya. Sebagian besar remaja Indonesia menggunakan fasilitas surel (surat elektronik alias email) untuk  berkomunikasi jarak jauh dengan sahabat penanya. Kebetulan aku juga salah seorang pengguna surel aktif, aku mempunyai banyak sahabat pena di berbagai belahan Indonesia. Mulai dari Cirebon, Jakarta, hingga Malang. Rasanya tiada hari tanpa bersurel-ria dengan kawanku di sana.
Tak hanya surel, banyak remaja Indonesia yang sewaktu itu rajin menggunakan fasilitas blog pribadi. Seperti Blogger, Multiply, Wordpress, dan masih banyak lagi. Luar biasa sekali rasanya kecanggihan teknologi membuat remaja Indonesia mempunyai wadah untuk berkreatifitas.

Antara Ujian dan Pujian

"Pohon menjadi besar justru karena dipupuk dengan kotoran yang bau, dan mati perlahan justru jika disiram minyak wangi,"

sumber gambar : A Convenience For All Life
Sungguh mustahil apabila hidup ini tanpa ujian. Ujian dan kehidupan bagaikan dua buah mata koin yang saling bersebelahan. Tanpa salah satunya, maka tidaklah utuh koin itu. Jika kita hidup, maka akan aneh jika kita tidak mempunyai masalah. Orang yang hidup tanpa masalah sama saja dengan orang yang 'tak hidup'.

Bersyukurlah dengan adanya ujian, dengan ujian maka level keimanan kita akan ditentukan. 
Tetapi bersedihlah jika engkau terlalu banyak dipuji. Mengapa? Manusia adalah makhluk yang lemah, apabila manusia dipuji, takutnya sang manusia menjadi sombong. Padahal Allah sama sekali tidak menyukai orang yang sombong. Terlebih, pujian itu tiada lain tiada bukan adalah milik Allah SWT

Lalu bagaimana bila kita dipuji? Bagaimanapun setiap manusia senang dan ingin dipuji. Ingatlah, ketika seseorang memujimu, ucapkan alhamdulillah... dan bahkan Abu Bakar ash-Shiddiq mencontohkan doa kepada kita. Sebuah doa yang dia aminkan kala dia banyak dipuji, dan dia takut apabila pujian tersebut membuatnya manjadi makhluk yang angkuh. Inilah doa beliau,
"Allahumma laa tu-aakhidznii bimaa yaquuluun, waghfirlii maa laa ya'lamuun, waj'alnii khairan mimmaa yazhunnuun," artinya, "Ya Allah, janganlah Engkau menghukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah dosaku yang tidak mereka ketahui serta jadikanlah aku lebih baik daripada perkiraan mereka,"

Yakinlah, kita akan besar justru karena dipupuk dengan cacian, hambatan, kritikan, bahkan fitnahan. Dan kita akan layu apabila kita terlalu sering dipuji!
Sabtu, 19 Mei 2012

Hitam Abu Putih

sumber gambar : Belajar Fotografi
Adalah kelabu. Ketika kau lihat semua itu dan yang kau temukan hanyalah tiga warna H I T A M, A B U, dan P U T I H...

Pada dasarnya, Sang Maha Indah telah menciptakan banyak keindahan di dunia ini.
Ketika semua cahaya putih (polikromatik) memancar ke benda di semesta ini, lalu terpantul lagi ke mata kita sebagai warnanya sendiri. Maka hal itu adalah sungguh keajaiban yang sangat luar biasa. Tetapi, kita disini bukan untuk mengingat pelajaran sains tapi kita disini untuk tadabbur alam, jadi, mari lupakan semua pelajaran sains itu (tapi tetaplah penting loh ya) dan lihatlah sekelilingmu.
Karena ternyata, masih banyak sekali cucu adam hawa yang buta dalam arti tidak dapat mengerti akan hakikat alam padahal mereka melihatnya. Malah, banyak manusia yang terlahir dengan keterbatasan fisik (baca : buta) tetapi justru mengerti akan hakikat alam. Subhanallah.

Cobalah, sebagai seorang muslim, mari kita lihat sekeliling, tarik nafas panjang, hembuskan, dan ucapkan "Subhanallah".... Lalu bersyukurlah karena Allah masih memberikan kita kesempatan untuk melihat keindahan dunia ini, dan berharaplah untuk dapat melihat keindahan yang lebih indah lagi di Jannah kelak...

Sesederhana Embun

sumber gambar : my gallery
E M B U N ...
Taukah dirimu bahwa banyak sekali penyair di dunia ini yang senang sekali mendeskripsikan embun, membuat sajak indah dari embun, membuat perumpamaan dari embun, dan sebagainya.
Embun, memang sangatlah indah pabila kita rangkai menjadi barisan sajak, sungguh, kesederhanaan embun mampu membuatmu ingin menuliskan beribu bahkan berjuta kalimat tentangnya. 
Embun, yang Allah ciptakan dengan berbagai macam keindahan. Lihatlah kebeningannya, kesegarannya, kealamiannya, takkah kau lihat kebesaran Allah di dalamnya...?!
Senin, 16 April 2012

Fajar Bercerita

Tadi di sekolah, kami, siswa-siswi kelas VIII-2 SMP Negeri 9 Bandung diberi tugas untuk membuat puisi dan membacakannya di depan kawan kami. Sebenarnya bukan hal yang baru sih, tetapi masih ada saja yang membuat puisi bukan karya sendiri, malah banyak yang dari internet. Sedihnya, beberapa karya yang tidak orisinil itu tidak didapat dari blog aku. Padahal aku sudah menawarkan kepada mereka untuk 'copas' puisi dari blog ini. Tapi, yaaa sudahlah hahaha... masa pula aku membantu mereka dalam berplagiat ria.
Nah, maka supaya blog aku tambah keliatan unsur sastranya, di postingan yang kali ini, aku namakan blog ku sebagai blog KUMPULAN PUISI atau NARASI hahaha rada ngaco sih!


Ohya tadi di sekolah aku membuat puisi sebagai berikut :


Rabu, 28 Maret 2012

Sesudah Kesulitan itu Kemudahan

"karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah : 5-6)
my gallery
 Pada dasarnya memang, setelah kesulitan itu ada kemudahan. Hal ini merupakan janji Allah yang sampai ditegaskan dua kali berturut-turut dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6.
Hal inilah yang mungkin menjadi inspirasi kalimat "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
Memang tak ada kemudahan yang 'tinggal ambil' saja. Semua kebahagiaan itu butuh usaha, butuh ikhtiar. Tetapi ketika kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa kebahagiaan atau kesuksesan itu masih sangat jauuuuh dari bayangan. Jangan putus asa! Teruslah berusaha! Ingatlah janji Allah! Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan!

Senin, 26 Maret 2012

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

sumber gambar : THE HEART BOOK

"DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN"
Ketika aku membaca kata-kata tersebut, sungguh aku merasa itu adalah sebuah filosofi yang indah. Yang dapat kita sadari adalah bahwa setiap daun yang jatuh ke tanah, yang gugur terlepas dari pohonnya tak akan pernah (dan tak akan mungkin rasanya) membenci angin. Pernahkah kita membayangkan bahwa ada selembar daun saja yang marah kepada angin ketika angin berhembus menjatuhkannya? Sungguh aneh bukan. Wallahu a'lam...

Mari kita berpikir. Seandainya kitalah daun dan Allah lah angin yang menggugurkan kita demi memberikan kita ujian. Mengapa kita harus marah kepada Allah? Mengapa? Padahal ujian adalah sebuah tes kenaikan derajat keimanan kita. Dan tidak ada seorang pun hamba Allah yang luput dari ujian.

Ingatlah! Semua ujian yang Allah berikan pasti memang dapat kita selesaikan. Simaklah, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya....." (QS. Al-Baqarah : 286)
Maka mengapa kita harus mencerca Allah? Mengapa kita merasa Allah tak adil? Mengapa? Padahal daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Karena daun tersebut yakin angin telah memberikan apa yang terbaik bagi dirinya. Maka yakinlah bahwa Allah juga telah memberikan yang terbaik bagi kita (bahkan dalam hal yang di MATA KITA anggap buruk sekalipun)....