"Ternyata kelembutanlah yang mampu merapatkan keragaman,"
- Aa Gym
![]() |
air yang menggerimis, mengembun, dan merinai |
Tetes-tetes air ialah kerdil jika dibandingkan dengan luasnya lautan. Namun tetap, lautan tidak akan menjadi lautan bila tidak ada tetes-tetes air yang berkumpul, bersirkulasi, dan bermuara. Maka seperti itu pula lah menjadi air: menjadi tetes kerdil di bentangnya semesta, sekaligus menjadi bagian penting: penyusun dari keeksisan dunia.
Menjadi air adalah tentang ke-tawadhu-an seorang manusia yang berupaya menghamba. Bahwa tidak ada daya yang dipunya, pun upaya, selain dari Allah Sang Mahasegala. Benarlah, apa yang kita punya jika jasad saja bukan milik kita? Bahkan Imam Syafi'i berkata, "Setiap kali bertambah ilmuku, semakin aku tahu bahwa diriku belumlah tahu." Seharusnya semakin kita mendewasa, semakin kita sadar bahwa diri ini tak berpunya.
Menjadi air adalah tentang menabung demi tergapainya lautan, tentunya lautan kebaikan. Karena ada yang berkata, banyak orang yang tengah berlomba-lomba di dunia, tetapi perlombaan paling baik adalah perlombaan dalam kebaikan. Fastabiqul khayrat.
Menjadi Air, Menjadi Sesenyap Gerimis
Kisah ini adalah salah satu wujud kesenyapan paling indah yang mungkin pernah direkam sejarah.
Syahdan, Sultan Murod Ar-Rabi' mengalami kegelisahan yang amat dalam. Herannya, dia tidak mengetahui apa penyebab kegelisahan tersebut. Sultan memiliki kebiasaan memeriksa keadaan rakyatnya secara sembunyi-sembunyi, maka pada hari itu dia berniat untuk keluar dalam penyamaran. Sultan berharap rasa gelisahnya akan terobati dengan melihat keadaan rakyatnya. MasyaAllah.
Di perjalanan, Sultan melihat seorang pria yang tengah tergeletak di atas tanah. Dengan penasaran, Sultan menggerak-gerakkan pria tersebut untuk memeriksa keadaannya. Naasnya, pria tersebut telah meninggal dunia.
Hal yang aneh, orang-orang di sekitarnya tidak peduli. Mereka hanya berlalu lalang, sibuk pada urusannya masing-masing. Maka sang Sultan memanggil mereka dan bertanya, "Mengapa pria ini tewas dan tidak ada seorang pun yang membawanya? Siapa dia? Di mana keluarganya?"
Orang-orang yang ditanya menjawab, "Ia orang zindiq! Ia suka minum khamr bahkan berzina. Sudah sepantasnya dia dibiarkan seperti itu. Biarkan ia menjadi bangkai di jalanan!"
Sultan Murod Ar-Rabi' tersentak kaget, tetapi langsung menimpali, "Bukankah ia dari golongan Nabi Muhammad? Ayo bawa dia ke rumah keluarganya!"
Mereka pun membawa jasad pria tersebut ke rumah istrinya. Sesampai di sana, sang istri menangis tak tertahan. Ketika orang-orang beranjak pergi, Sultan masih berada di sana, berjuta penasaran berkecamuk di pikirannya. Sang istri yang tengah terisak dengan lirih berkata pada sang Sultan, "Semoga Allah merahmatimu wahai Sultan."
Sang Sultan semakin keheranan. Bagaimana mungkin sang istri mengetahui bahwa dia adalah khalifah di sana. Keheranan itu dijawab dengan sendirinya oleh sang istri. Rupanya sang istri menyadari keheranan Sultan.
"Aku sudah menduga hal itu. Aku ingin bercerita sesuatu, kuharap engkau berkenan mendengarkan." Sang istri menarik napas tertahan. Berusaha menghentikan isak yang kini berubah menjadi desahan.
"Setiap malam," cerita sang istri, "suamiku pergi ke penjual khamr dan membeli sebanyak yang dia bisa, kemudian kami tumpahkan seluruhnya ke toilet. Dan suamiku berkata: "Semoga aku bisa meringankan keburukan khamr dari kaum muslimin". Suamiku juga selalu pergi kepada para pelacur dan memberinya uang, lalu dia berkata: "Malam ini kau kubayar, maka tutuplah pintu rumahmu rapat-rapat hingga pagi menjelang. Semoga dengan demikian, aku bisa meringankan keburukan zina dari pemuda-pemuda muslim malam ini"."
"Namun, orang-orang yang menyaksikan suamiku membeli khamr dan masuk ke rumah pelacur lantas berpikiran yang tidak-tidak. Mereka membicarakan suamiku dengan keburukan. Pernah aku berkata pada suamiku: "Sungguh, jika seandainya engkau mati, mereka tidak akan mengetahui kebaikanmu dan akan menjauhimu. Tidak akan ada yang mau memandikanmu, bahkan menyolatkan dan menguburmu"."
"Dan suamiku menjawab: "Jangan khawatir, pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku"." Begitulah sang istri menyudahi kisahnya.
Mendengar kisah itu, Sultan Murod menangis dan berkata, "Suamimu benar, demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Rabi'. Dan besok, aku, para ulama, dan petinggi-petinggi negeri ini akan memandikan hingga menguburkan jasad suamimu."
**
Benarlah pepatah sebuah hadis,
"Tiga hal yang merupakan pusaka kebajikan:
- merahasiakan keluhan,
- merahasiakan musibah,
- dan merahasiakan sedekah."
(HR. Thabrani)
Salah satu puncak kebajikan adalah senyap dalam beramal kebaikan. Jika tangan kiri saja tidak tahu-menahu dengan apa yang diperbuat tangan kanan, apalagi orang-orang di sekitarnya? Salah satu puncak keikhlasan adalah membiarkan diri asing dalam kebaikan. Menjadi air yang tidak menonjol dalam perbuatan. Menjadi gerimis yang senyap dalam menebar kesuburan.
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim no. 2965)
Menjadi Air, Menjadi Sesederhana Embun
Embun mampu menyesaki kerontangnya dahan dengan kesejukan. Padahal wujudnya hanya setetes air pada permukaan. Tanpa bersusah payah menjadi air bah, embun mampu membawa perubahan.
Baru tempo hari saya menemukan inspirasi dalam kebaikan yang sederhana. Saat itu, tengah hari yang terik dalam perjalanan angkot Cicaheum-Ledeng, sehingga dapat dimaklumi kalau banyak orang yang gerah dan mudah melepas amarah.
Angkutan me-ngetem cukup lama. Bapak di bangku belakang sampai mengetuk-ngetuk kaca dengan sengaja, lantang-lantang, berharap Pak Sopir menyadari waktu yang tengah berdetak ribuan saat demi menunggu kefanaan. Sayang, bukannya peka, Pak Sopir malah mengomel tentang "calon penumpang" yang memberi harapan palsu. Ya tentunya tidak demikian, Pak Sopir hanya berlebihan menaruh harap. Sementara itu, teteh-teteh yang gerah--akibat cuaca serta laku Bapak-di-bangku-belakang dan Pak Sopir yang tidak peka-peka--mulai berbisik-bisik. Entropi dalam angkutan ini pasti sudah amat tinggi, pikirku.
Angkutan berjalan dan penumpang naik-turun silih berganti. Ada seorang pria berkepala dua yang masuk di daerah RM. Soeharti. Pria tersebut membawa gulungan spanduk. Sekilas, tidak ada yang spesial pada lakunya.
Di pangkal jalan Setiabudi, seorang Ibu berbatik ungu hendak turun. Ibu tersebut menyerahkan selembar lima ribu pada Pak Sopir. Pak Sopir berujar, "Dari mana, Bu? Kurang dua ribu."
"Saya dari Pahlawan. Biasanya juga lima ribu," ucap sang Ibu ketus. Sudah saya katakan, entropi di angkutan amat tinggi sehingga dapat dimaklumi banyak emosi yang tidak terbenahi.
"Tujuh ribu, Bu," Pak Sopir menimpali tidak kalah keras. Pemandangan negosiasi seperti ini tentu sudah sering terjadi, tetapi pemandangan yang saya saksikan kali ini cukup seru karena kedua belah pihak sama-sama keukeuh. Malah saling menimpali dengan ketus dan keras.
"Segitu Pak. Udah tidak ada lagi uangnya," kata sang Ibu berbatik ungu sambil berlalu. Meninggalkan Pak Sopir yang telanjur gerah. Adegan berikutnya adalah Pak Sopir terus-menerus mengomel mengenai adab penumpang dan sebagainya. Kalau sampai Baltos lima ribu tetapi sampai sini tambah dua ribu dan sebagainya. Kalau jadi penumpang bayarnya pas masih di dalam dan sebagainya. Dan sebagainya, sayangnya angkot tidak jalan-jalan. Pak, lupa ngegas?
"Pak, biar saya saja yang bayar utang Ibu tadi," ujar seseorang. Ternyata pria dengan gulungan spanduk tengah menawarkan diri mengkhatamkan kekurangan pembayaran ibu tadi. Kata-katanya itu tulus dan lembut, amat menetramkan.
Pak Sopir tidak terlihat merespons dengan baik. Namun akhirnya angkot kembali berjalan. Semua penumpang lega.
Namun di saat yang sama, saya menjadi malu dengan inisiatif sederhana dari pria tersebut. Amat sederhana. Tetapi ada berapa banyak orang yang terpikirkan? Ataupun ada berapa banyak orang yang hendak mengambil langkah serupa? Memang hanya selembar dua ribu, tetapi akankah kita melakukannya juga?
Yang saya pahami, pria tersebut telah menginspirasi dengan kesederhanaan yang dia perbuat. Bahkan teteh-teteh di depan saya tiada henti membicarakan. Sisa perjalanan itu saya hadapi dengan senyuman karena saya menyadari banyak kebaikan sederhana, sesederhana embun yang menyejukkan.
Menjadi Air, Menjadi Selembut Rinai
Mengapa memilih kelembutan? Karena Islam--agama kedamaian--lah yang mengajarkan.
Bahkan dalam sejarah, seorang raja paling dzalim yang mengaku tuhan--Firaun namanya--kisahnya menjadi contoh metode menebar kebaikan. Di saat keras bisa menjadi pilihan, justru Allah perintahkan Musa dan Harun berdakwah dengan kelembutan.
"Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Taha: 43-44)
Kelembutan air lah yang mampu membuatnya menyeruak dan menyusupi celah-celah keragaman. Contohnya pada bahan bangunan. Ya, komposisi beton amatlah beragam: semen, pasir, batu kerikil; namun air lah yang mampu merapatkan. Airlah yang justru menjadi komponen pengokoh dari semuanya. Airlah, dengan kelembutannya, mampu diterima setiap insan dan merapatkan keragaman.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..." (QS. Ali Imran: 159)
Menjadi Air, Bukanlah Membuihkan Diri
Satu hal yang perlu diingat, janganlah menjadi buih di lautan. Yang terbawa arus tiada menentu. Bagaimana bisa seorang manusia membuihkan diri?
Sebuah hadis diriwayatkan dari Tsauban, bahwa Rasulullah bersabda,
“Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama."
Maka para sahabat pun bertanya,
“Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?"
Rasulullah menjawab,
“Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di lautan.”
Sahabat bertanya lagi,
“Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?”
"Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’.
Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?”
Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.”
(HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278)
Naudzubillahi min dzalik wallahu'alam bish showwab.
***
Sebuah catatan perjalanan
Jumat, 3 Rabi'ul Awwal 1438 H
:')
BalasHapusSangat Inspiratif sekali teh :')Syukron Jazakillah Khair
BalasHapus