![]() |
langit syahdu Tsukuba |
Sore itu, sore terakhirku di Jepang. Aku duduk bersebelahan dengan Tante Nuri, perempuan yang banyak membantu kebutuhanku selama di Tsukuba. Hari itu Tante Nuri mengantarkanku ke berbagai spot di Tsukuba untuk membeli oleh-oleh sebelum akhirnya besok pagi pulang ke Tanah Air.
Obrolan kami mengalir sesyahdu semilir angin di awal musim semi. Aku bercerita tentang keinginanku membeli kaos berlabel Jepang untuk adik-adikku di Cimahi. Tante Nuri bertanya, adik yang mana? Tante Nuri ingat bahwasanya aku sudah membeli beberapa pernak-pernik untuk Faza dan Nadia. "Oh iya, adik-adik lelakiku yang anak dari Abi, Tante," ujarku saat itu.
Tante Nuri sempat terdiam, kemudian berkata, "Wah masyaAllaah, hebat Fia. Nggak banyak lho yang dalam kondisi Fia tapi berpikir untuk melakukan demikian."
Aku langsung kikuk. Di benakku ini hal yang memang sudah seharusnya aku lakukan. Adik-adikku di Cimahi, Mas Jundi dan Mas Fatih sangat ingin bisa ke Jepang, seenggaknya kaos itu bisa memotivasi dan berkata pada mereka bahwa sangat mungkin lho untuk juga bisa terbang ke sana!
"Ah, engga Tante biasa aja. Hehe."
Tante Nuri tersenyum lalu bercerita tentang kasus broken home yang ia temui di antara teman-temannya. Banyak anak-anak dari korban broken home yang kemudian turun prestasinya, mencari perhatian dengan berbagai ulah tak bertanggung jawab, hingga memutuskan untuk melakukan berbagai percobaan bunuh diri.
Kasus-kasus yang memang miris tapi nyata adanya.
Aku sendiri merasa termasuk orang yang beruntung karena meski memang perjuangan di tahun-tahun itu tidak mudah--kalau boleh jujur aku juga melakukan tindakan "cari perhatian" yang hampir serupa--tapi justru titik-titik nadir dalam hidup itulah yang membuatku bertumbuh seperti sekarang.
Air mata pasti ada. Rasa kecewa, marah, sedih, dan kacau yang berkecamuk telah turut mengiringi perjalannya. Tapi pada akhirnya aku menyadari kalau kisah-kisah hidup kita memang telah didesain dengan sespesial itu dari Allah. Khusus untuk kita seorang.
Begitulah ternyata cara kita memunculkan rasa syukur paling mudah: Dengan menyadari bahwa Allah nggak sedang main-main dengan kisah hidup kita. Bahwa selepas semuanya, ada kebaikan yang lebih besar lagi untuk diri kita.
Ah, semoga kita selalu memilih percaya.
- 2 Juni 2020
0 komentar:
Posting Komentar