![]() |
Tetapi apakah kita pernah berpikir, mengapa namanya 'telur mata sapi', padahal telur tersebut sama sekali tidak diproduksi oleh sapi. Pernahkah kita berpikir, seharusnya namanya adalah 'telur mata ayam' karena telur diproduksi oleh ayam. Pernahkah kita berpikir sampai sana?
Disini kita tidak akan berlarut-larut memprotes nama makanan yang entah bagaimana bisa seperti ini. Tetapi mari kita ambil hikmah dari ulasan di atas.
Ayam adalah penghasil telur, tetapi mengapa malah sapi yang dicantumkan namanya dalam salah satu hasil produksi ayam? Apakah ayam tidak protes? Apakah ayam tidak mau menggugat ke dinas kebahasaan mengenai hal ini? *abaikan
Tanpaknya ayam biasa saja menanggapinya bukan? Ayam itu IKHLAS, meski hasil pekerjaannya diakui sapi, ayam tak pernah marah-marah kepada sapi. Ayam itu IKHLAS.
Sekali lagi, ayam itu IKHLAS. Dia menelurkan butir demi butir telur bukan karena namanya ingin dikenal di khalayak sebagai penghasil 'telur mata sapi', tetapi dia melakukannya sempurna untuk memberikan manfaat kepada sesama dan untuk beribadah kepada penciptanya.
Coba bayangkan, seorang manusia terkadang beribadah dan melakukan kebaikan karena ingin mendapat pujian. Seorang manusia terkadang bekerja dengan pamrih semata-mata supaya dirinya menjadi populer dan sebagainya. Tanpaknya sulit sekali bagi manusia untuk IKHLAS, untuk mendirikan ibadah semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT.
Coba simak kalamullah surat al-An'am ayat 162-163 ini, "Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tema menyerahkan diri (kepada Allah),"
Maka mengapa kita perlu bersusah payah untuk mempopulerkan diri? Padahal dengan bekerja secara ikhlas, segala pekerjaan akan terasa lebih mudah. Tak perlu kita mencari saksi dahulu baru mulai melakukan suatu kebaikan. Tak perlu kita susah-susah mengklaim segala hal bahwa kitalah yang pertama melakukannya. Sungguh tak perlu!
Hayoo... masa mau kalah sama ayam?
Karena Allah
sepenggalan mentari naik
biasnya bermain bersama tempias rimis
ikhlas katamu
lalu berakhir dengan lebih indah
desah sapuan angin ke beringin
lembut gugurkan daun musim semi
ikhlas katamu
lalu gugurnya ukir mozaik rindu
karena Allah
fillah wa lillah
sederhana lalu berakhir dengan indahNya
ikhlas
karena Allah
fillah wa lillah
sungguh, ingin ku berguru pada mereka
***
29/07/2012
0 komentar:
Posting Komentar