[tetap sebuah imaji]
"Kamu tahu bagian tersulit dari beranjak?" tanyamu, suatu waktu.
"Err... memangnya apa?"
Matamu menerawang langit biru padahal tidak ada apa-apa di sana. Kemudian kamu berkata lagi, "Semua bagiannya sulit, kok. Haha." Kamu hampir tertawa, tampak terpaksa.
Aku tersenyum kecut sambil berusaha menyelami jawabanmu itu, "Mungkin bisa menjadi mudah..."
Aku sempat terdiam. Ragu-ragu. Ah, apa akan aku katakan saja kalimat berikutnya ya...
"Mungkin bisa menjadi mudah... jika bukan diri kita sendiri yang mengehendakinya."